Sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi

Radikal bebas terakumulasi dalam tubuh karena stres oksidatif yang disebabkan banyak faktor. Oleh karena itu kita membutuhkan sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi untuk membantu menetralisir radikal bebas.

Berikut ini sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi yang diukur dengan nilai ORAC (μ mol TE/100g).

  • Jeruk 2103 ORAC
  • Stroberi 4302 ORAC
  • Goji berries 4,310 ORAC
  • Cilantro 5,141 ORAC
  • Blackberries 5,905 ORAC
  • Artichoke (boiled) 9,416 ORAC
  • Wild blueberries 9,621 ORAC
  • Kidney beans 8,606 ORAC
  • Cranberries 9,090 ORAC
  • Elderberries 14,697 ORAC
  • Pecans 17,940 ORAC
  • Dark chocolate 20,816 ORAC
  • Thyme 27,426 ORAC
  • Akar Jahe 39041 ORAC
  • Biji Jintan 50372 ORAC
  • Bubuk Kokoa 55653 ORAC
  • Kunyit 127068 ORAC
  • Kayu manis 131420 ORAC
  • Oregano spice 175295 ORAC
  • Cengkeh tanah 290283 ORAC
  • Suplemen Astaxanthin 2822200 ORAC

Apa arti nilai ORAC ?

sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi

ORAC adalah metode untuk mengukur besarnya kapasitas antioksidan di vitro (tabung reaksi).

Semakin besar nilai ORAC maka semakin efektif menetralkan radikal bebas (di vitro).

ORAC singkatan dari Oxygen Radical Absorbance Capacity yang memiliki arti kapasitas serapan radikal oksigen.

Sejarah dan kontroversi ORAC

Pada awalnya ORAC dikembangkan oleh NIH dan USDA, lembaga kesehatan yang berasal dari Amerika Serikat.

Untuk mengetahui seberapa efektif sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi dapat menangkal radikal bebas, maka para ilmuwan memberi nilai ORAC.

Uji coba yang dilakukan tidak mungkin dengan cara vivo (tubuh manusia hidup dijadikan bahan percobaan). Oleh karena alasan itu maka uji coba dilakukan di vitro (di tabung reaksi, biasanya di gelas kaca).

Penelitian ini memakan waktu sampai puluhan tahun untuk mengukur kapasitas antioksidan dari berbagai jenis makanan. Hasilnya bisa anda lihat disini.

Nilai ORAC yang dipublikasikan oleh NIH dan USDA lambat laun menarik perhatian banyak orang. Terutama orang-orang dari perusahaan komersil yang berbisnis dibidang makanan dan minuman. Contohnya produk suplemen makanan kesehatan.

Perusahaan makanan dan minuman mulai mempromosikan produk suplemen mereka dengan memamerkan tingginya nilai ORAC agar konsumen tertarik.

Tetapi NIH dan USDA kemudian menghapus semua database nilai ORAC tepatnya tahun 2012. Yaitu 2 tahun setelah nilai ORAC di release.

Alasannya cukup sederhana, mereka tidak ingin masyarakat menjadi salah paham dengan nilai ORAC.

Dari awal sudah dijelaskan bahwa uji coba dilakukan secara vitro dan bukan vivo.

Karena hasil di vitro belum tentu sama di vivo. Contohnya flavonoid hasil divitro tinggi, tetapi ketika vivo hanya diserap rendah. Karena hanya diserap tubuh rendah, maka nilai kapasitas antioksdan juga menjadi lebih rendah.

Vitro = Eksperimen yang dilakukan di tabung atau gelas kaca.
Vivo = Eksperimen yang dilakukan di keseluruhan organisme hidup.

Banyak perusahaan yang menjual produk suplemen makanan dengan memanfaatkan nilai ORAC tanpa menjelaskan lebih detail kepada masyarakat. Sehingga masyarakat umumnya menganggap kalau nilai ORAC itu diukur dalam tubuh manusia, padahal bukan.

Cara kita menyikapi nilai ORAC

Sekarang tentunya anda sudah lebih mengerti arti ORAC. Metode in-vitro tidak dapat diekstrapolasikan menjadi efek in-vivo pada manusia.

Namun banyak ilmuwan berteori bahwa makanan dengan nilai ORAC tinggi masih dianggap lebih efektif untuk menetralkan radikal bebas.

Jadi nilai ORAC sebenarnya mempermudah kita untuk bisa membantu memilih sumber makanan yang mengandung antioksidan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *